Balon

Pada tanggal 13 Januari 1997, Steve Fosset naik ke dalam ruang kemudi balon udara dengan ambisi menjadi orang pertama yang mengelilingi bumi dengan sebuah balon. Setelah tiga hari ia berhasil menyebrangi Atlantik dan terbang ke arah timur di atas Afrika.

Namun angin bertiup membawanya ke jalur lain, kea rah negara Libya. Tetapi Libya saat itu telah menolak memberikan izin kepada Steve Fosset untuk terbang di wilayah udaranya, yang berarti bahwa ia bisa ditembak jatuh. Masalahnya balon tidak bisa berbelok arah; Jadi jika perubahan arah perlu dilakukan, diperlukan perubahan ketinggian untuk menemukan angin dari arah yang diinginkan untuk membawa kearah yang dituju.

Fossett turun ke 1.920 meter lebih, saat angin tenggara bertiup. Dengan selamat ia mengitari Libya, kemudian memanaskan balon itu untuk naik ke 3.048 meter dan terbawa angin timur kembali ke jalurnya.

Sahabatku,
Bertrand Piccard, seorang pengendara balon juga memandang apa yang dilakukan Fosset dalam mengendarai balon sama seperti kita menjalani kehidupan sehari-hari: “Dalam sebuah balon, Anda adalah tawanan angina dan hanya terbang sesuai arah angin. Dalamkehidupan, banyak orang mengira bahwa dirinya adalah tawanan keadaan. Tetapi sebuah balon udara, yang juga dapat dilakukan dalam kehidupan, Anda dapat mengubah ketinggian , dan saat Anda mengubah ketinggian, Anda mengubah arah. Anda bukan tawanan lagi.” Dalam kehidupan ini, untuk mengubah arah hidup Anda, ubahlah sikap Anda.

Kebenarannya, kita bukanlah tawanan keadaan dan kesulitan hidup. Peganglah teguh janji Tuhan dalam hidup Anda dan ubahlah sikap Anda, maka Anda akan melihat bagaimana arah hidup Anda diubah oleh Tuhan. Jadi mari hari ini kita katakana hal ini, “Tidak perduli apa yang dikatakan angin kesukaran dalam kepadaku, aku akan pergi kea rah yang kutuju, ke arah Tuhan.”

Tuhan memberkati.