Mau Bahagia? Ini Rahasianya

Setiap orang tentunya mendambahkan hidup yang bahagia. Namun sayangnya, tidak semua memilih dan menggunakan cara yang tepat untuk menggapainya. Banyak orang membangun kebahagiaan semu karena khayalan untuk memiliki dan menjadi seperti orang lain, sehingga lupa untuk menjadi diri mereka sendiri sambil menikmati apa yang mereka miliki saat ini.

Tak terasa pun banyak orang dewasa ini mengejar kebahagian lewat dan melalui berbagai cara dan bentuk hidup. Ada yang mengukur dari banyaknya harta yang dimiliki; yang lain dari seberapa isi saku/dompetnya; yang lain dari penampilan pacar atau suami/istri yang cantik dan tampan; dan yang lain lagi dari keinginan untuk mendapatkan dan menikmati nilai-nilai hidup seperti kedamaian, cinta kasih, keadilan dan kebenaran.

Meskipun demikian, banyak juga di antara kita ingin menggapai kebahagiaan dengan apa yang sebenarnya bukan milik kita. Lebih parah lagi bila ada yang ingin menampilkan kebahagiaannya di mata orang lain dengan cara bukan menjadi dirinya sendiri seperti si bencong tadi.

Sekali lagi, dalam kasus-kasus seperti ini tidak pernah membenci pribadinya tapi kecenderungan diri untuk menjadi seperti orang lain, itulah yang kadang menyiksa banyak orang. Pernah aku berdialog singkat dengan seseorang, ia mengatakan; “Pak, aku merasa tersiksa dan tidak bahagia karena selalu mau menjadi seperti orang lain. Selalu membandingkan diriku, kemampuanku, dan semua yang ada padaku dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Akhirnya, aku selalu merasa belum cukup apa yang kumiliki, belum cukup kecantikanku, belum cukup penampilanku, sehingga aku terus menerus mencari siapakah aku ini.” Menjawabnya, aku hanya bicara singkat; “Adekku, jadilah dirimu sendiri! Terimalah kelebihan dan kekuranganmu sebagai bagian yang tak terpisahkan dari dirimu. Kadang kita hanya boleh menerima tanpa mengubah apa yang datang dari Tuhan. Kita harus menerimanya apa adanya. Kebahagiaan hidup bukan terletak pada kecenderungan kita untuk menjadi seperti yang lain, melainkan kerelaan kita untuk menerima apa adanya kita.

” Lebih baik menjadi hitam manis daripada nampak putih karena pengaruh bedak kecantikan. Lebih baik menjadi cantik alamiah daripada kecantikan sesaat karena tempelan benda-benda hiasan di tubuh dan kulit kita.

Karena itu, sekali lagi dimana renungan ini hanya mau mengingatkanmu sebagai sahabatku untuk “berhentilah membandingkan diri dengan orang lain, dan jadilah dirimu sendiri! Berhentilah terobsesi untuk menjadi diri orang lain.

Sebaliknya jadilah dirimu sendiri, kawan!”
Jika Anda mulai hari ini dari titik ini maka kebahagiaan yang akan Anda terima bukanlah yang semu melainkan kebahagiaan yang asli dan tulen, kebahagiaan yang sejati. Ada orang yang ingin menggapai kebahagiaan dengan cara ingin memiliki milik orang lain (padahal itu kan hanya sekedar keinginan dan mereka menghabiskan banyak waktu dan tenaga, bahkan uang untuk tampil seperti orang lain), sebaliknya mereka lupa untuk menikmati apa yang mereka miliki sebagai alasan untuk berbahagia.

Pesanku kepadamu cuma singkat saja; “Jadilah dirimu sendiri, kawan!” Anda akan tampak lebih cantik, tampan, anggun dan menarik dengan dirimu sendiri daripada menjadi korban dari banyak hal yang ada di luar sana, yang bukan dirimu, yang bukan milikmu, dan juga mungkin tidak akan menjadi seperti mereka walaupun hanya menyerupainya saja.

Jangan membangun kebahagiaan hati dan jiwa dari alat-alat tiruan, dari tampilan “perlente.” Sebaliknya, kenakanlah cinta kasih, keadilan dan kebenaran di dalam hatimu, maka apa pun tampilan lahiriahmu, itu akan lebih menarik dan bahkan menjadi berkat bagi orang lain.

Tuhan memberkati kita.