Banyak Mendengar, Sedikit Berbicara

Pembicara pertama dalam suatu pertikaian nampaknya benar, lalu datanglah orang lain dan menyelidiki perkaranya.

Seringkali kita membuat kesalahan serius yang seharusnya dapat dengan mudah dihindari jika kita mengindahkan kebenaran. Seringkali kita hanya melihat sebuah kasus hanya dari satu sudut pandang, atau satu pihak yang berkisah. Semuanya benar dan bagus menurut sisi pandang orang tersebut atau Anda sendiri. Hingga muncul satu orang lainnya yang menceritakan sudut pandanganya. Hasilnya, Anda dapat menyelidiki kejadiannya lebih mendalam dan terhindar dari membuat keputusan yag buruk.

Namun seberapa sering seseorang datang untuk menceritakan sudut pandangnya dan menyelamatkan kita dari membuat kesalahan? Tidak sering bukan. Untuk itu, hari ini kita diingatkan untuk tidak membuat kesimpulan terlalu cepat. Namun jika terjadi suatu masalah, hendaknya kita melihatnya dari berbagai sudut pandang dengan menanyakan pendapat orang-orang yang berkaitan dengan masalah tersebut. Sebelum membuat penilaian, hendaknya kita juga mau dinilai oleh orang lain. Artinya, kita harus mengerti dan menyelami sudut pandang orang lain. Inilah yang disebut dengan bijaksana.

Mungkin dimasa lalu kita sudah sering membuat keputusan yang salah hanya karena salah pengertian. Hari ini mari kita datang kepada Tuhan dengan pertobatan, dan merendahkan hati untuk dibentuk dan belajar menjadi orang yang bijaksana.

Sebelum membuat sebuah keputusan, pastikan Anda sudah menyelidiki permasalahannya dengan baik.

Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut dengan suatu tujuan, yaitu agar kita lebih banyak mendengar dari pada berbicara.

Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.

Tuhan memberkati kita.