Belajar Dari Seekor Sapi

Tanpa sengaja seekor sapi milik pak Domi terjatuh dalam sebuah lubang yang dibuat warga sekitar. Dengan gigih sapi tersebut berusaha untuk keluar dari lubang, oleh karena lubang yang mengancam hidupnya terlalu dalam, sapi tersebut tidak bisa keluar dan akhirnya sapi hanya bisa berterik sebagaimana sapi berteriak histeri. Pak Domi mendengar suara sapi dan dia tahu kalau suara sapi tersebut adalah suara sapinya. Bergegas pak Domi berlari kearah suara sapi berasal, ia temui sapinya telah terjebak dalam lubang yang sangat dalam. Segera pak Domi meminta tolong kepada tetangga tetapi, tetangga sekitar telah bersepakat untuk tidak mau menolong oleh karena sakit hati dan cemburu terhadap pak Domi. Temannya bernama Medi datang dengan hati yang tidak ada niat membantu pak Domi pergi melihat sapi. Setiba ditempat sapi terjebak, temannya berkata” Bukankah sapimu terlalu gemuk dan lubangnya sangat dalam???”

Dengan raut muka kasihan pak Domi berkata” sobat, tolong saya, tolong saya mencari jalan keluar untuk mengeluarkan sapi ini…tolong…tolonglah…”

“Pak, bagaimana mungkin kita bisa mengeluarkan sapi dari lubang yang sangat dalam ini??? Ini semua salahmu memberi makan berlebihan sehingga sapi menjadi sangat gemuk…hmmm…biarkan saja dia mati dalam lubang ini.” jawab Medi dengan santai karena tidak mau membantu.

Lubang yang dalam dan sapi yang terlalu gemuk juga membuat pak Domi putus harapan atas keselamatan sapinya. Tetangga sekitar memaksa pak Domi menimbunkan sapi dengan tujuan, apabila sapi mati, tidak mengeluarkan bau tidak sedap dari dalam lubang. Tanahpun dimasukan dan secara tidak sengaja tanah yang dimasukan kedalam lubang menyiram badan sapi. Sapi berusaha mengangkat kaki-kakinya dari timbunan tanah, menggoyakan badan dan melakukannya berulang-ulang kali sehingga tanah di atas punggungnya jatuh di atas tanah sebelumnya. Tak heran apabila sapi berada di posisi atas dari semua tanah yang dimasukan kedalam lubang hingga akhirnya sapi dapat keluar dari lubang tersebut.

Sahabatku,

Seringkali kita tidak kuat dan membuat kita juga putus asa dalam menghadapi cobaan. Kita harus belajar lebih banyak dari sapi tadi yang mau berusaha walau sudah terjatuh dalam lubang yang sangat dalam, tertimbun tanah, mungkin saja matanya terkena tanah dan tidak dapat melihat serta hal-hal yang tidak ia duka terjadi dalam kehidupannya tetapi dengan usahanya mengangkat kaki, menggoyangkan badannya iapun berhasil keluar dari lubang yang mengancam hidupnya. Sahabatku, dalam perjuangan hidup ini, apakah kita bisa mencapai garis akhir??? Atau, tertimbun dengan tanah kesalahan kita??? Semuanya tergantung pada diri kita sendiri.

“Bangkitlah untuk mencapai garis akhir”

Tuhan memberkati kita.