Air Mata

Mazmur 42:3-5

“Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku : “Di mana Allahmu? Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah dulana, bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan. Mengapa engkau tertekan hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”

Tidak tahu berapa kali air mata mengalir turun membasahi pipi, tidak terhitung juga berapa kali air mata yang di dalam hati turun mengalir di lubuk hati terdalam. Entah itu pria, entah itu wanita, kesedihan pasti pernah kita alami. Rasanya tidak ada lagi kata yang mampu melukiskan apa yang kita rasakan di dalam hati, bahkan air mata itu tidak berhenti mengalir atau bahkan tidak dapat keluar.

Apa penyebabnya? Kesedihan karena ditinggal oleh seseorang yang kita cintai, kesedihan karena penyakit yang sedang kita hadapi, kesedihan karena ternyata kita begitu merasa kesepian dan sepertinya tidak seorang pun yang peduli, kesedihan karena kerja keras yang gagal, kesedihan karena putusnya hubungan dengan seseorang, ada banyak kesedihan lainnya. Anda yang merasa sedih hari ini, dimana hanya air mata yang berkata-kata, suatu hari akan keluar dari kesusahan yang besar itu, apapun itu.

Pemazmur berkata bahwa ketika semua kesedihan maupun kesusahan itu melanda dirinya, justru dia harus bangkit. Dia harus menjadi yang terlebih dahulu berseru kepada Tuhan karena dia tahu sungguh bahwa hanya Tuhan yang dapat melepaskan kesesakan yang dia rasakan.

Memang benar, hal itu tidak mudah dilakukan, bahkan sangat bertolak belakang dengan keinginan diri yang terus menerus tenggelam dalam kesedihan. Tapi bilang pada dirimu sendiri untuk bersyukur kepada Allah. Paksa hati Anda untuk berserah kepada Tuhan, karena hati yang remuk tidak akan diabaikan-Nya.

Benarlah ada lagu yang mengatakan, “Hati yang hancur tak Engkau abaikan, namun Kau memeluknya dengan kasih.” Percayalah akan kata-kata itu

Tuhan memberkati kita.