Benih Apa Yang Kita Tanam Hari Ini

Ada seorang Pria yang ingin melakukan sesuatu. Ia menemukan sebuah gagasan: “Mengapa aku tidak menanam benih pohon mangga dan menikmati hasilnya ketika tumbuh menjadi sebuah pohon besar dan berbuah lebat?”

Jadi dia pergi ke pasar, membeli benih pohon kecil dan membawanya pulang. Dia menanamnya di tanah yang luas dan subur. Dia membaca segala sesuatu tentang cara membesarkan pohon mangga. Dia bangun setiap pagi, karena ia bertekad untuk memasok pohon muda dengan semua nutrisi yang diperlukan.

Dia menyirami pohon itu, ia memberikan pupuk kandang, dan ia merawat pohon itu dengan baik, memangkas daun dan dahan yang sudah layu. Dia harus memastikan bahwa pohon muda itu menerima perawatan yang baik.

Sering kali ia duduk dan mengagumi keindahan pohon yang tumbuh, dan bermimpi tentang pohon mangga lezat. Pikirannya selalu dipenuhi dengan keinginan untuk mencicipi buah pertama dari pohon itu.

Bertahun-tahun berlalu … sekarang, dia punya pohon besar … dengan daun yang lebat, kulit dan batang yang sehat, keras dan kokoh.

Kemudian suatu hari ia melihat tunas kecil, yang dalam beberapa hari mekar menjadi bunga yang indah. Sekarang ia tak sabar menunggu buahnya muncul, sehingga ia mulai meningkatkan pasokan nutrisi nya dan perawatan.

Lalu suatu hari pohon itu mengeluarkan produk pertama – buah hijau kecil. Pria itu begitu bahagia. Dia menunggu beberapa minggu lagi sampai buah itu benar-benar menjadi buah yang besar. Ketika buah itu sudah besar dan tampak segar, ia memutuskan untuk mencicipi buah pertama dari pohon itu.

Dia memanjat pohon tersebut, memetik buahnya tetapi kemudian dia tampak kecewa. Buah yang ia dipetik dari pohon itu tidak seperti apa yang diharapkan. Keras, besar dan bulat. Dia bingung. Dia sedih.

Melihat hal ini, tetangganya datang dan bertanya apa yang terjadi. Dia mengatakan kepada mereka bahwa buah dari pohon-nya tidak seperti apa yang dia inginkan.

Ketika para tetangga mendengar, mereka tidak tahu apakah harus tertawa atau menghiburnya, karena apa yang ia tanam beberapa tahun yang lalu adalah benih pohon jambu biji.

Cerita ini mengajarkan kita satu hal yang sederhana. Kita semua sudah tahu. “Jika kita ingin memiliki pohon mangga maka kita harus menanam bibit mangga Tidak ada alternatif lain..”

Demikian pula dengan kita, bagaimana kita bisa berharap untuk menjadi apa yang kita inginkan, jika kita tidak mau menabur benih yang benar?.

  1.  Jika seorang gadis ingin menjadi dokter, dia harus membaca ilmu biologi, kesehatan, penyakit, kalau tidak bagaimana dia bisa mewujudkan mimpinya?
  2. Jika anak laki-laki ingin menjadi pemain sepak bola, dia pasti harus menghabiskan waktunya berkeringat di lapangan (bahkan ketika teman-teman bermain).
  3. Jika seorang pria ingin menjadi penulis, tidak ada cara lain selain membaca dan berlatih menulis. Adakah cara lain yang akan dilakukan?
  4. Jika seseorang ingin menjadi seorang pelukis, Kita tahu apa yang harus dilakukan bukan; mengambil kuas dan cat dan mulailah belajar melukis.
  5. Apakah ada yang ingin mengubah sikap dari negatif ke positif? Dia harus bersedia untuk menabur benih positif ke dalam pikirannya.
  6. Hal ini berlaku untuk setiap tujuan dalam hidup, baik besar atau kecil, pribadi atau sosial. Bagaimana kita bisa berharap mangga jika kita tidak menanam bibit mangga?

Kita benar-benar dapat menjadi semua yang kita inginkan …. Jika kita ingin mencapai apa yang kita inginkan, maka kita harus serius berinvestasi dalam hal-hal yang akan membawa kita ke tujuan tertentu.

Pikiran kita adalah benih pertama yang kita tabur dalam setiap usaha. Satu-satunya hal yang dibutuhkan untuk menjadi apa yang kita inginkan, adalah kesadaran “bahwa apa yang kita tabur itulah yang akan kita panen”

Mari kita menabur benih yang tepat ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Setelah pikiran kita, hal-hal kunci berikutnya adalah kata-kata dan tindakan kita.

Jika kita menanam benih yang buruk (tindakan / kata), kita pasti akan mendapatkan tindakan / kata-kata yang buruk pula.

Sudah banyak bahkan sering orang mengatakan bahwa “Jika Anda ingin di hargai, maka Hargailah orang lain terlebih dahulu, jika ingin di cintai maka cintailah orang lain terlebih dahulu” serta “lebih baik memberi daripada menerima”

Tapi terkadang itu sulit kita lakukan, kita bukan manusia yang sempurna, terkadang kita tidak sadar dgn apa yang kita lakukan / ucapkan itu menyakiti atau menyinggu perasaan orang lain, karena kita sedang emosi, marah, sedih dan kecewa. Hanya satu yang bisa kita lakukan, meminta maaf dan memperbaikinya.

Jika anda ingin di maafkan, maka maafkan orang lain terlebih dahulu. Mulailah membiasakannya dari sekarang, kapan lagi kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan kalau tidak sekarang. Belajarlah sedikit demi sedikit.

Pikirkan dan renungkan itu.