Bahu

“Suatu hari ibu saya bertanya kepada saya, “Bagian mana dari tubuh yang paling penting?” Sebagai jawaban yang pertama, saya segera menjawab, “Bagian terpenting dari tubuh adalah telinga,bu.” “Bukan itu, sebab sudah banyak orang yang tuli di dunia ini. Teruslah memikirkan jawabannya, dan ibu akan menanyakanmu lain kali.” Di lain waktu, Ibu kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama, dan saya menjawab, “Penglihatan sangat penting bagi semua orang. Jadi bagian terpenting itu pastilah mata kita.” Ibu memandang saya dengan tersenyum dan berkata, “Engkau belajar dengan cepat, tetapi jawabanmu masih kurang tepat, karena banyak orang yang buta di dunia ini.” Saya jadi bingung dan tidak habis pikir, mengapa jawaban saya selalu gagal, namun saya tetap berusaha mencari tahu jawaban yang benar selama bertahun-tahun, walau sang ibu selalu memberi jawaban yang sama.

Suatu saat, nenek saya meninggal dunia, dan semua keluarga datang berkumpul dan bersedih. Tiba-tiba ibu memandang saya dan bertanya, “Apakah engkau sudah tahu, apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?” Saya amat terkejut ketika ibu bertanya di saat berkabung seperti itu. Melihat saya kebingungan, ibu kemudian berkata dengan lembut, “Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu, apakah engkau sudah dewasa atau belum. Untuk semua bagian tubuh yang engkau beritahu kepada ibu dulu, ibu selalu berkata salah, dan ibu telah memberitahumu alasannya.

Tapi hari ini adalah hari di mana kamu harus mendapat pelajaran yang sangat penting itu.” Ibu memandang saya dengan mata keibuannya dan saya melihat ada airmata di mata ibu. Kemudian ibu berkata, “Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu.” “Bahu, bu? Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?” tanya saya keheranan. “Bukan, tetapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kita sayangi ketika mereka sedang bersedih atau menangis. Kadang-kadang dalam hidup ini ketika orang menangis, maka ia memerlukan bahu untuk bersandar. Ibu cuma ingin agar engkau belajar merelakan hatimu sebagai tempat tumpangan bagi mereka yang ingin menceritakan keluh kesah dan bahumu sebagai penopang ketika mereka menangis.” Saya terhenyak dalam kesadaran dan memeluk ibu, yang segera menumpahkan kesedihan dan airmatanya di bahu saya.

Saya menyadari dan mengerti bahwa bukan bahunya yang menjadi masalah tetapi kerelaan hati dan rasa empati untuk mendengar keluh kesah dan kesedihan orang lain. Itulah point terpenting dari pertanyaan ibu yang selama bertahun-tahun tidak bisa saya jawab.

Mengasihi sesama manusia bukanlah sekedar berkata-kata, tetapi harus ada kerelaan untuk menjadi sahabat, untuk mendengarkan keluh kesah mereka dan memberi penghiburan di kala mereka bersedih. Biarlah kita belajar untuk peduli terhadap penderitaan dan kesusahan orang lain, karena itu adalah perwujudan dari cinta kasih kita kepada sesama. Relakanlah bahu Anda untuk menjadi tumpuan yang kuat bagi orang lain.”