Burung Pipit Saja Dipelihara-Nya, Apalagi Kita

Banyak yang bilang, “rumput tetangga selalu lebih hijau”. Lantas kemudian, manusia mencoba agar rumput sendiri tak kalah hijaunya. Pupuk tetanggapun dicuri, dilemparkan ulat dan serangga pemakan rumput, bahkan kalau bisa matahari tak boleh muncul di atas rumput tetangga. Segalanya dihalalkan.

Yang jadi pertanyaan adalah, kenapa? Kenapa kita tak pernah puas? Kenapa kita tak cukup bersyukur dengan keadaan yang ada saat ini?

TAKUT. Takut adalah alasan mengapa seseorang menjadi tidak mudah puas, tidak cukup bersyukur, dan menginginkan barang kepunyaan orang lain.

Apa yang ditakutkan?

TAKUT. Takut bahwa Tuhan melupakannya dan tidak memberikannya rejeki lagi.

Mengapa bisa takut?

TAKUT. Takut karena imannya sedang goyah. Imannya tak lagi kuat.

Padahal, bila kita melihat ke jalan yang panas, penuh debu dan tak ada intan permata, di sana burung pipit tertawa riang, menyanyi penuh syukur dan pujian. Mereka tak mati karena kelaparan. Mereka tak mati karena tak punya mobil atau rumah mewah. Mereka juga tak mati karena tak mampu membeli Chanel atau Luis Vuitton. Jadi mengapa kita harus merasa takut?

Sahabatku,

Jika burung pipit saja masih dikasihi Tuhan, apalagi kita manusia, makhluk yang paling dicintai oleh-Nya. Cukupkah nasehat si burung pipit ini membuat kita kembali dekat dan percaya kepada-Nya?

Mari bersyukur untuk segenap berkah yang diberikan kepada kita.
Mari kita Mulai hari ini dengan doa dan ucapan syukur.