Untuk Suamiku, yang Selalu Jadi Alasanku Bangun Setiap Pagi

isteri yang sayang pada suami

“Aku harap kamu membaca dan memahami kata demi kata di surat ini.”

Untuk suamiku, yang selalu jadi alasanku bangun setiap pagi,

Tahukah kamu setiap pagi aku berterima kasih pada Tuhan karena mempertemukan kita berdua di jalan yang sama. Aku bersyukur bisa melihat punggung dan wajah orang yang tidak akan bosan kucintai setiap pagi. Aku membuka jendela dan bisa merasakan hangatnya matahari pagi, tapi aku lebih bersyukur ketika ada pelukan hangat darimu yang membuktikan bahwa Tuhan memberiku satu kesempatan lagi untuk menerima dan memberikan cinta. Pagi hari kita nggak akan selalu penuh dengan adegan seperti ini, ya aku menyadarinya. Akan banyak cobaan dan tantangan yang bisa datang dari mana saja. Akan ada air mata dan argumentasi. Akan ada masa-masa dimana kita bersitegang dan akan ada waktu dimana emosi mampu menggelapkan mata kita. Akan ada masa dimana aku harus menangis dan tidak bisa berlari padamu. Aku sudah tahu dan siap akan hal itu.

Tapi aku ingin kamu tahu…

Di hari aku mengiyakan ajakanmu untuk mengarungi laut bersama, di hari itu pula aku sadar bahwa hidup bersamamu bukanlah hal yang mudah. Aku juga sadar bahwa kehidupan bersamamu bukan berarti nyaman tanpa tersengat sinar matahari dan kehujanan. Di hari aku memutuskan untuk hidup bersamamu, di hari itulah aku tahu aku mau berjuang bersamamu dari bawah, dari nol. Aku sadar membangun rumah tangga bersamamu membutuhkan stok toleransi yang luar biasa besar. Tidak hanya itu, mental yang tidak mudah menyerah juga aku perlukan di hari aku memulai hidup baru bersamamu. Karena aku menyadari hidup kita tidak akan mulus, banyak lika-liku yang mungkin membuatmu meragukan janji suci yang kita ikat bersama.

Tapi percayalah, suamiku.

Aku akan selalu berdiri di sisimu, menggandeng tanganmu, menguatkanmu ketika kamu lelah berlari. Aku akan selalu mendukung dan sebisa mungkin membuatmu bahagia setiap hari. Aku akan berusaha membuatmu bangga ketika kamu memperkenalkanku ke semua orang, “inilah istriku, yang jadi sosok di balik kesuksesanku.” Aku ingin kita melewati badai dan awan gelap bersama, melewati gelombang yang menghantam keras sekali pun, aku ingin kita menulis kisah cinta kita bersama.

Dan kelak, di akhir hayat, aku berharap kita bisa mengenang masa-masa kita berdua, kisah yang cuma bisa dimengerti oleh dua insan manusia, yang dipertemukan oleh Tuhan, bukan kebetulan, yang disatukan oleh cinta, yang diikat oleh kesetiaan hingga maut merenggut kita berdua. Aku tidak percaya dongeng, tapi aku percaya kamu dan aku bisa menulis kisah cinta yang lebih manis dari dongeng-dongeng sebelum tidur itu.

Ditulis penuh kasih,
istrimu.

Sumber : Indonesian Time