Siapa Calon Suamimu ?

memilih_calon-suamiKalau ada sesuatu pokok pikiran yang harus dipertimbangkan dengan pertimbangan yang tenang dan tidak disertai emosi, itulah pokok pikiran tentang perkawinan. Kalau Kitab Suci begitu diperlukan sebagai penasihat, hal itu harus diadakan sebelum pria dan wanita dipersatukan dalam ikatan seumur hidup. Kalau mereka biasa berdoa dua kali sehari sebelum mereka berniat menikah, mereka harus berdoa empat kali sehari bila hendak mengambil langkah seperti itu. Perkawinan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi kehidupanmu, baik dalam dunia ini maupun dalam dunia yang akan datang.

Sebelum menikah, setiap wanita harusnya menanyakan apakah pria yang akan dipersatukan dengan dia dalam pernikahan patut menjadi suaminya.

Bagaimanakah sejarah hidupnya?

Apakah kehidupannya tidak bercacat?

Apakah cinta yang diungkapkannya mulia dan tinggi derajatnya, ataukah cintanya itu hanyalah cinta yang berdasarkan emosi?

Adakah padanya sifat-sifat tabiat yang akan menjadikan isteri bahagia?

Dapatkah engkau memperoleh damai dan kegembiraan dalam kasihnya?

Apakah engkau akan diperkenankan memelihara kepribadianmu atau haruskah pertimbangan dan angan-angan hatimu diserahkan pada pengendaliannya?

Dapatkah ia menghormati segala tuntutan Juruselamat sebagai sesuatu yang paling utama?

Apakah tubuh, jiwa, pikiran dan motifnya dipelihara dalam keadaan suci?

Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting hubungannya dengan kesejahteraan setiap wanita yang akan memasuki hubungan pernikahan. Wanita yang menginginkan suatu pernikahan yang penuh damai dan bahagia, yang dapat mengelakkan kesedihan dan kesusahan pada masa depan, hendaknya bertanya.

Apakah kekasih saya masih mempunyai seorang ibu? Bagaimanakah keadaan tabiat ibunya?

Adakah calon suami itu mengakui kewajibannya kepada ibunya? Apakah ia memperhatikan keinginan dan kebahagiaannya?

Kalau ia tidak menghargai atau menghormati ibunya, apakah ia akan menunjukkan penghargaan dan kasih, kebaikan dan perhatian, terhadap isteri?

Apakah ia akan bersikap sabar terhadap segala kesalahan saya, atau apakah ia akan bersifat suka mengritik, suka memerintah dan berlaku seperti diktator?

Biarlah seorang wanita muda hanya akan menerima seorang teman hidup, yang memiliki sifat-sifat tabiat yang suci dan gagah perkasa, seorang yang rajin, bercita-cita, dan jujur, seorang yang kasih dan takut akan Allah.

Jauhkanlah mereka yang tidak tahu hormat; jauhkanlah seorang yang suka bermalas-malas; jauhkanlah yang mengejek perkara-perkara yang suci. Hindarkanlah pergaulan dengan seorang yang menggunakan bahasa yang kotor, atau yang sudah ketagihan minuman keras. Jangan dengarkan anjuran seorang yang tidak menyadari tanggung jawabnya kepada Allah.

Sebagian besar perkawinan pada zaman kita ini dan cara mengadakannya menjadikan perkawinan itu salah satu tanda akhir zaman. Pria dan wanita sangat keras kepala, sehingga Allah tidak dihiraukan. Agama dikesampingkan, seakan-akan tidak ada peranannya dalam perkara yang penuh khidmat dan penting ini. Perasaan mereka terbelenggu, mereka maju ke depan dengan diam-diam, seolah-olah khawatir jangan-jangan rencana mereka diganggu oleh seseorang.

Semoga kebenaran yang suci yang menyucikan jiwa akan memberikan keberanian kepadamu untuk memisahkan dirimu dari kenalan yang paling menyenangkan yang engkau ketahui tidak kasih dan takut akan Allah, dan tidak mengetahui apa-apa tentang prinsip-prinsip kebenaran sejati.

Ellen G. White